Rabu, 27 Mei 2020

KIKIL CABE IJO

KIBEJO ( Kikil Cabe Ijo)


Bahan
Kikil

Bumbu
3 siung bawang merah
3 siung bawang putih
10 buah cabai hijau keriting
2 buah tomat hijau

Cara memasak
Potong kikil kecil-kecil. Panaskan minyak, tumis bawang merah dan bawang putih yang telah diiris tipis, setelah harum masukkan cabai hijau, dan kikil, masak hingga atang, sesaat sebelum kompor dimatikan masukan tomat hijau, aduk hingga layu, matikan kompor, setelah uap panas hilang taburi garam.
Catatan.
Bawang, cabai, tomat, daun salam, lengkuas yang saya gunakan tidak memiliki ukuran yang persis sama dengan yang Anda gunakan. Pastikan Anda menyesuaikan komposisi bumbu. Jangan ragu untuk mengurangi atau menambahkan.
Catatan.
Bawang, cabai, tomat, daun salam, lengkuas yang saya gunakan tidak memiliki ukuran yang persis sama dengan yang Anda gunakan. Pastikan Anda menyesuaikan komposisi bumbu. Jangan ragu untuk mengurangi atau menambahkan.

Selasa, 26 Mei 2020

BOBOR BAYAM


Bahan
2 ikat bayam
2 sdm santan
300 ml air


Bumbu
4 bamer
2 baput
1 ruas kencur
1 ruas lengkuas
1 lembar daun salam
Garam secukupnya

Cara memasak
1.       Bayam yang sudah dipetik, rendam dengan air garam kurleb 10 menit, lalu bilas hingga air cucian bayam tidak mengandung tanah.
2.       Bamer, baput, kencur giling halus. Lalu masukkan ke dalam panci berisi air, tambahkan lengkuas dan daun salam.
3.       Setelah mendidih, masukkan bayam, dan gulpas, lalu aduk. Setelah bayam mulai lembut, tambahkan santan, matikan kompor segera setelah santan mendidih. Santan tidak boleh didihkan terlalu lama atau berkali-kali.
4.       Setelah uap panas hilang tambahkan garam.

Jumat, 15 Mei 2020

AAAH...!



Ccciiittt… Kraaakkkk…

“Aaah...!”


Jantungku berdetak kencang, kupeluk erat buah hati dalam pangkuanku. Hampir saja kami

Capcay Merah

Camer (Capcay Merah)


Bahan bahan :
Sawi hijau
Kembang kol
Kubis

Kamis, 14 Mei 2020

Biodata Penulis

Nama            : Endang Sufiyandani, S.Psi
Pendidikan    : Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Cara Mengajari Anak Bersedekah

Anak-anak memiliki sifat egosentris yang membuatnya enggan berbagi. Semua adalah miliknya, memuaskan dirinya, berpusat pada dirinya. Namun dengan pertambahan usia, sifat ini akan berkurang, apalagi jika didukung oleh stimulus lingkungan. Misalnya memiliki adik, berbagi dengan adik, atau orang tua.

Jumat, 24 April 2020

Membiasakan Anak dengan Gawai

Era digital saat ini membuat kita terbiasa melihat anak-anak batita menikmati tayangan melalui gawai. Sebuah pemandangan yang lumrah di dalam angkot, pasar, pusat perbelanjaan. Bahkan di taman hiburan sekalipun batita-batita sibuk menonton gawai, sementara orang tua mereka heboh berswafoto.

Tak hanya itu, kita juga sering disuguhi tontonan batita/balita mengamuk atau tantrum karena gawai diambil oleh orang tuanya. 

Jangan jadikan anakmu seperti dirimu karena mereka hidup di zaman mereka, bukan di zamanmu. Ungkapan ini sangat cocok untuk situasi sekarang. Gawai memiliki manfaat yang luar biasa, memudahkan berkomunikasi, sumber informasi, kemudahan pekerjaan dan bisnis, sarana belajar dan segudang manfaat lainnya. Namum, jika salah menggunakan maka gawai akan menjadi bumerang yang sangat membahayakan.

Alasan kesibukan orang tua dan agar anak tenang, gawai diserahkan ke anak. Tidak kita sadari jadi kebiasaan. Sejak kecil orang tua yang secara sengaja membiasakan anak dengan gawai. Apakah itu baik?. Tentu saja baik apabila kita sebagai orang tua mendampingi, memantaunya serta membatasi. Dampak buruk akan muncul jika kita hanya memfasiltasi tanpa membatasi, mengarahkan, mendampingi dan memantau penggunaannya. Rasa ingin tahu anak yang tinggi sangatlah sulit untuk dicegah, hal itu memang insting yang diberikan oleh Sang Pencipta.. Tanpa pengawasan dan pendampingan maka mereka akan berselancar dengan jari mereka. Banyak kejadian buruk terjadi karena penggunaan gawai dan atau internet yang kurang terbimbing.

Keteladanan
Tidak berguna alias percuma jika kita hanya menasihati, dan melarang namun miskin keteladanan. Orang tualah guru pertama sekaligus sumber belajar bagi anak. Sudah pasti ada aturan hal yang boleh kita (orang tua) lakukan dan anak tidak, minimal jangan lakukan di depan anak.

Pola Asuh
Keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak. Penulis mengalami banyak kejadian dimana orang tua menyalahkan sekolah tempat mereka mempercayakan pendidikan anaknya dengan mengabaikan pendidikan di dalam keluarga karena sibuknya orang tua atau keengganan belajar dari para orang tua. Ditambah lagi teman bergaul anak. Pertemanan di dunia maya memang sangat sulit dikendalikan, tapi siapa sangka ternyata memiliki peran psikologis yang sangat besar dalam perkembangan anak. Orang tua meyakini di rumah anaknya terlihat baik-baik, tak pernah nongkrong atau keluyuran. Tetapi orang tua lupa bahwa anak berselancar didunia maya berjam-jam 

Buat kesepakatan dengan anak
Pendampingan dan pemantauan


KISAH BELALANG

KISAH BELALANG Ada seekor belalang yang telah lama berada di dalam sebuah kotak. Suatu hari belalang tersebut berhasil keluar dari kota...